Teori Relativitas Cinta



Selamat Malam dimanapun kalian galau, kali ini gue akan memaparkan pemikiran baru gue, seperti biasa, pemikiran gue gak pernah penting penting amat, makalah terakhir gue tentang “Malam Minggu Dan Hubungannya Dengan Kegalauan Remaja” ternyata ditolak berbagai pihak, well, hidup gak selalu gampang, emang. Jadi langsung aja, pemikiran ini yang gue olah selama beberapa waktu (sambil galau dan boker berkali kali) gue berhasil menemukan teori yang gue sebut “Teori Relativitas Cinta” lo bingung? Bentar. Gue jelasin bentar. 

Pernah gak dalam kehidupan cinta lo, ketika lo sedang cerita ke temen lo, atau sebaliknya, kalian menggalaukan masalah yang hampir sama, atau ketika lo galau, pernah gak lo sadar, tiba tiba banyak orang yang cintanya sama sama gak jelas kaya lo. Pernah? Nah ini yang gue bahas,

Jadi, yang dimaksud “Teori Relativitas Cinta” adalah, ketika kita sedang galau, secara tidak sadar kita menarik orang orang dengan cinta yang gak bener juga. Maksud gue, seperti pernyataan di paragraf sebelumnya, gue sering mengamati ketika seseorang galau, dia cenderung menjadi pusat gravitasi energy galau, yang bakalan menarik orang orang yang juga mengalami kegalauan. Sehingga bakalan muncul populasi orang orang galau diluar sana. Dalam merumuskan teori ini gue menggabungkan berbagai teori, pertama Teori Energi Galau, jadi, dalam sebuah Benda Galau, (kata benda gue masukkan sebagai orang), benda galau tersebut memiliki kecenderungan untuk melepaskan energi negative (dalam hal ini energi galau), yang secara langsung bisa mempengaruhi keseimbangan benda benda disekitarnya. Jelasnya, orang galau memiliki “energi jahat” yang bisa ikut menarik orang orang disekitarnya untuk ikutan galau, inilah alasan sebuah peribahasa jaman dulu yang berkata “Anjing Menggalau Kafilah Mupon”.

Kemudian, teori lain yang mendukung teori gue adalah gak ada. Iya gak ada. Gue juga bingung kenapa gue nulis ini, oh iya, Teori Kekekalan Galau, jadi, kita ibaratkan galau itu sebagai sebuah energi. Hukum energi itu, energi tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan, energi hanya dapat diubah bentuknya. Galau juga kemudian memiliki sifat seperti itu. Jadi, ketika lo senang, bahagia, itu adalah energi galau yang berubah bentuk. Begitupun sebaliknya. 

Dan, setelah 2 teori tadi, kesimpulan teori gue adalah, ketika kita galau, kita memang butuh orang lain, tapi inget, segalau galaunya kita, jangan sampe kita ngeluarin energi galau berlebihan yang bakalan ngerepotin orang orang disekitarlo. Berusahalah untuk tetap tegar, walopun galau, jangan tiba tiba nangis, tiba tiba boker dicelana, tiba tiba ngehamilin anak orang, jangan. Jangan gitu, dan sadarlah, dengan teori Kekekalan Galau, galau bakalan berubah jadi senang, galau bakalan ilang, karena itu adalah sebuah siklus dalam hidup. Galau, sedih, senang, bahagia. Itu udah ada yang ngatur, bukan yang ngatur bukan PLN, yang ngatur itu PLNnya alam semesta. Yang ngatur itu Tuhan, So percayalah, Galau itu juga termasuk nikmat tuhan. Gitu. Gak Nyambung sama teorinya ya? Ah bodo amat. Sekian. Selamat Melanjutkan galau anda.

Komentar