Maniak Burung Nomer 1 di Dunia



Bokap adalah seorang maniak burung paling gesrek yang pernah gue tau. Kalo diibaratkan, dia pasti adalah seorang sarjana S3, mempunyai gelar Profesor, dan menulis beberapa makalah serta artikel yang banyak diperhitungkan didunia perburungan. Ajib. Gue ngomong gini bukan tanpa alasan, saking saktinya bokap gue, gue pernah iseng iseng memutar sebuah rekaman suara burung anis merah dikomputer gue , dan secara luar biasanya, dia, tanpa menoleh sedikitpun kearah komputer, beliau berkata dengan nada suara normal “Dek, jangan anis merah, yang kacer aja”. Gue termangu, seakan akan gue sedang melihat Stephen Hawking baru saja menjelaskan sedikit teorinya tentang Big Bang.

Bokap juga adalah seorang expert dalam urusan menangkap burung lepas, kejadian ini terjadi beberapa bulan lalu, saat itu gue baru aja bangun tidur siang, gue melihat kesekeliling, lalu gue seperti melihat punggung gorilla betina sedang menyusui, ternyata itu bokap gue. Gue berjalan mengendap ngendap menuju bokap gue, posisi bokap sedang setengah berjongkok, lalu mukanya seperti menahan sesuatu, wajahnya juga berwarna merah, dalam pikiran gue, bokap mungkin sedang kehilangan ingatannya dan sedang mengira jamban dan pojok rumah adalah tempat yang sama, gue menepuk pundaknya dan berkata dengan suara pelan “Pak, ada apa?”. Pandangan bokap gue kosong, gue sedang berasumsi kalo bisa aja bokap sedang kesurupan,tapi gue menggelengkan kepala. Gue  sedang berpikir kira kira hantu hantu mana yang berani masuk ke bokap gue. Lamunan nyasar gue terhenti ketika bokap, tanpa mengubah pandangannya, sambil mengacungkan jarinya, dia berkata “Cepetan kamu ke umpetan”. Gue mengangguk, lalu berjalan berjinjit menuju salah satu pojok rumah yang lain, orang yang kebetulan melihat kami berdua mungkin sedang berpikir kami sedang mengintip salah satu tetangga kami. Gue mengalihkan pandangan menuju keluar rumah, disana terdapat 2 buah sangkar burung, satu terisi burung, dan satu lagi dibiarkan membuka. Gue mengalihkan pandangan ke bokap, bokap bisa membaca pikiran gue, dan berkata “Kamu liat burung itu kan?”. Gue melihat burung itu, tak ada tanda tanda aneh dari burung itu, gue lalu mengalihkan pandangan gue ke bokap, lalu bokap meneruskan perkataannya, “Ada burung yang kayak gitu yang lagi mutar muter deket sini, kalo bapak dapet kan lumayan kalo dijual” jawab bapak gue jumawa. Gue mengangguk perlahan. Entah berapa lama gue dan bokap dalam keadaan setengah berjongkok itu, tiba tiba ada seekor burung yang masuk ke sangkar burung yang kosong, dan lalu terdengar suara pintu sangkar tersebut tertutup. Tapi yang mengagetkan bukan itu, saat pintu sangkar tertutup, bokap meneriakkan kata yes dengan nada tertahan, lalu dengan gerakan secepat gorilla gunung, dia berlari menuju ke halaman depan untuk mengambil 2 sangkar burung tersebut. Kemudian dia mengangkat sangkar tersebut tinggi tinggi. Kelihatan jelas raut muka bahagianya. Gue pun gak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum. Baru kali ini kita keliatan kompak dalam sesuatu sebagai seorang anak dan ayah.

Ikatan batin bokap dengan burung burungnya juga sudah terjalin dengan sangat kuat. Saat gue pulang sekolah lebih gasik dari biasanya, gue iseng menuju samping rumah. Tempat itu adalah tempat favorit bokap buat ngegantungin burung burungnya. Disana, bokap menggantung lebih dari 8 burung, yang terdiri dari berbagai jenis dan warna. Bisa dipastikan kalo kebun raya bogor kekurangan lahan untuk tempat tumbuh burung, rumah gue bisa dijadikan salah satu usul yang bisa dipertimbangkan. Ketika gue sampai di samping rumah, burung burung bokap gue ramai berbunyi, akan tetapi bunyinya asal asalan, seakan akan burung burung itu sengaja membuat bunyi bunyian aneh tersebut supaya gue segera meninggalkan teritori mereka. Gue menelan ludah. Bagian ini masih termasuk rumah gue, dan mereka semua (burung burung kampret tersebut) seperti para penjajah yang telah menjajah kawasan samping rumah gue. Gue merasa dikhianati piaraan gue sendiri. Dasar burung durhaka. Gue yang terlanjur bete kemudian masuk kembali kedalam rumah. Perasaan semakin tersayat sayat terjadi ketika bokap pulang kerumah dengan mengendarai motornya, ketika bokap mematikan suara mesin motornya, seketika itu juga bergemuruh seisi samping rumah gue, bokap dengan santainya langsung berjalan menuju samping rumah. Bokap seperti Mario Teguh ketuaan yang disambut meriah oleh para penggemarnya. Kampret.

Dan karena kedekatan emosionalnya dengan para burung peliharannya, bokap bisa menjadi orang yang sangat terpukul begitu tau kalo ada salah satu burungnya yang mati. Kejadian ini terjadi waktu di sebuah siang di suatu hari yang cerah, ketenangan hidup gue terusik ketika bokap dengan langkah tergesa gesa dari samping rumah berlari menuju halaman depan untuk mengambil hpnya. Ketika dia berlari kembali menuju samping rumah, bokap gue melintas didepan kamar gue, lalu bokap gue mengalihkan pandangannya menuju gue. Dan dengan tatapan yang nanar dipadu dengan muka yang sangar, beliau berkata dengan suara meyakinkan “Nu, disamping rumah ada ular, burungnya bapak ada yang mati dimakan. Ularnya masih disangkarnya”. Jujur, dibanding fakta kalo ada ular disamping rumah, gue lebih takut dengan bokap gue saat ini. Gue berjalan setengah terburu buru ketika melihat kesamping rumah. Ada salah satu sangkar burung yang sedang diisi santai oleh seekor ular tikus, mukanya agak agak nyantai gitu. Tatapannya sedikit meremehkan gue waktu gue masih secara asyik mengamati mahluk bersisik tersebut, harga diri gue hancur. Sialan. Gue kembali masuk ke dalam rumah. Setelah beberapa lama, bokap kembali mencak mencak, beberapa saat kemudian gue baru tau kalo ular tersebut lepas lagi. Selama beberapa hari keadaan rumah sangat horror. Setiap aktifitas kita, kita lakukan secara hati hati. Khawatir kalo kalo ular tersebut berada dipojokkan jamban ketika gue ngegalau atau ada di dalam kloset. Tapi enggak dengan bokap. Ular tersebut salah memilih musuh, karena sudah bermusuhan dengan bokap gue. Semenjak hari itu, bokap selalu menyisir setiap tempat di samping rumah yang diyakini dapat dijadikan tempat bersembunyi sang ular. 2 hari kemudian, perang Mahabharata ini kembali dimulai,  diawali dengan serangan ular kesebuah sangkar berisi burung yang lumayan besar, burung tersebut nampaknya tidak bisa melawan, burung itu mati disangkarnya, akan tetapi, karena ukurannya yang terlalu besar ular tersebut jadi tidak dapat keluar dari sangkar melalui celah celah sangkar. Okeh ini alay, tapi itulah yang terjadi. Bokap dan gue terlambat, si burung sudah mati. Hanya menyisakan bangkainya saja. Bokap kemudian mengambil sebuah pemukul kayu, lalu dengan muka seperti samurai X yang sedang membara, beliau berkata padaku. “Tutup pintu belakang”. Dan dengan gagahnya bak seorang ksatria dengan tubuh gempal, bokap gue kembali menyisir area sekitaran samping rumah. Tetapi gue dengan cemennya masuk kerumah, namun, gue secara antusias melihat pertarungan bokap dan ular tersebut dari balik jendela. 5 menit kemudian, ular tersebut keluar dari balik peralatan tukang milik bokap. Bokap memulai pertarungan dengan mengucap sumpah serapah berkali kali, ular tersebut Cuma membalas dengan desisannya yang menyebalkan, namun kali ini bokap lebih tangguh, dipukulnya kepala ular tersebut berkali kali dengan pemukul ditangannya. Darah ular itu muncrat kemana mana, lalu dengan senyum kemenangan bokap gue berkata, “Selesai, semua sudah selesai”. Lalu bokap mengayunkan pemukulnya lagi ke bangkai ular tersebut. Tanda salah satu pertempuran besar abad ini telah dimenangkan olehnya









Komentar