Menjadi seorang sutradara adalah salah satu tugas terberat dalam sebuah film. Semenjak gue menjadi sutradara, hobi gue adalah nonton drama korea, nonton sinetron sinetron di tv, sama sesekali belajar ngedit skenario. Semua itu gue lakukan buat satu hal."Ide". Gue masih gak punya ide buat film ini. Gue jadi suka baca blog orang lain buat ngedapetin ide. Serius, susahnya cari cewek gak ada apa apanya dibanding susahnya cari ide. Lalu kemudian gue mendapat pencerahan. Waktu itu gue berpikir, Gue kan juga punya blog. Kalo bisa pake ide cerita dari blog gue sendiri, kenapa enggak? Kemudian gue berpikir lagi, kira kira cerita apa yang bakalan bikin excited orang orang yang nonton ya? Gue ngesearch ke dokumen blog gue, gue sempet kepikiran buat mbikin film berdasar pengalaman gue boker saat PAM mati, tapi gak mungkin, Kemudian gue berpikir lagi. Cerita di film gue biar bisa masuk ke penontonnya, kudu cerita yang sering orang rasain atau alamin. Kemudian, kemudian, kemudian lainnya gue akhirnya milih satu cerita buat dijadiin film, postingan Cinta Yang Mengubah.
Ketika gue keinget cerita ini, ada satu hal menyebalkan yang terjadi. Gue mau gak mau harus flashback ke kejadian beberapa bulan lalu, dimana gue dengan ikhlasnya (atau dengan tololnya, tergantung sudut pandang lo) merelakan diri sendiri untuk menjadi orang lain. Gue jadi inget gimana rasanya ketika gue pertama kali ngeliat dia. Gue jadi inget banyak hal. Gimana awal kisah ini bermula, dan betapa kancrutnya cerita ini berakhir, gue hapal. Dengan berbagai pertimbangan, ada beberapa hal yang gue tambahin, dan ada beberapa hal dari kejadian itu yang gue sensor karena terlalu menyedihkan dan absurd untuk diperankan karena mungkin malah gak jadi lulus sensor. Dan jadilah gue, penulis absurd yang mencoba menjadi seorang penulis skenario dan sutradara.
Setelah merasa fix sama idenya, gue mulai merumuskan jalan cerita dan gimana caranya biar konflik yang gue alamin di kejadian nyata bisa jadi dan sampe ke penontonnya. Bagian ini yang cukup nyita waktu gue karena, well, karena waktu itu jadwalnya bertepatan sama UKK, gue juga jadi ngurangin intensifitas gue terhadap draft film ini. Dengan sedikit demi sedikit, gue bisa nyusun skenario kasar yang bisa gue kasih sama Gandhes. Gue berterima kasih sama Gandhes karena berkat dia, skenario film bisa jadi dan kita bisa segera take. Dia juga yang nyedian kamera dan jadi salah satu kameramennya. Serius, Gandhes, dimanapun kamu berada, saat baca postingan ini, rambut lo sisir ya, hehehehe
Ketika gue keinget cerita ini, ada satu hal menyebalkan yang terjadi. Gue mau gak mau harus flashback ke kejadian beberapa bulan lalu, dimana gue dengan ikhlasnya (atau dengan tololnya, tergantung sudut pandang lo) merelakan diri sendiri untuk menjadi orang lain. Gue jadi inget gimana rasanya ketika gue pertama kali ngeliat dia. Gue jadi inget banyak hal. Gimana awal kisah ini bermula, dan betapa kancrutnya cerita ini berakhir, gue hapal. Dengan berbagai pertimbangan, ada beberapa hal yang gue tambahin, dan ada beberapa hal dari kejadian itu yang gue sensor karena terlalu menyedihkan dan absurd untuk diperankan karena mungkin malah gak jadi lulus sensor. Dan jadilah gue, penulis absurd yang mencoba menjadi seorang penulis skenario dan sutradara.
Setelah merasa fix sama idenya, gue mulai merumuskan jalan cerita dan gimana caranya biar konflik yang gue alamin di kejadian nyata bisa jadi dan sampe ke penontonnya. Bagian ini yang cukup nyita waktu gue karena, well, karena waktu itu jadwalnya bertepatan sama UKK, gue juga jadi ngurangin intensifitas gue terhadap draft film ini. Dengan sedikit demi sedikit, gue bisa nyusun skenario kasar yang bisa gue kasih sama Gandhes. Gue berterima kasih sama Gandhes karena berkat dia, skenario film bisa jadi dan kita bisa segera take. Dia juga yang nyedian kamera dan jadi salah satu kameramennya. Serius, Gandhes, dimanapun kamu berada, saat baca postingan ini, rambut lo sisir ya, hehehehe
Komentar
Posting Komentar