Gue sedang bersiap siap menuju ruang drama. Baju olahraga yang gue bawa gue letakan di bawah meja. Gue sengaja gak ganti baju karena palingan gurunya juga gak ada. Pulpen dan buku tulis gue selipin di saku celana, buat pantes pantes kalo akhirnya ada materi yang harus ditulis kalo kalo gurunya ngasih tugas lewat guru piket.
Setelah ngerasa siap, gue meninggalkan tas dan tetek bengek lainnya di kelas. Memang kebiasaan ketika ada pelajaran olahraga dan Seni, satu kelas akan ditinggal penghuninya ke berbagai kelas Seni. Ada seni drama yang gue ambil, ada seni tari yang khusus diperuntukan buat anak cewek, seni musik yang punya ruangan dan peralatan yang memadai, sama seni rupa yang para membernya kayak para brahmana jaman dulu.
"Cepetan mri, ditungguin dari tadi" teriak salah satu temen gue dari luar kelas
"Iya, bentar." Kemudian gue bergegas menuju pintu,dengan sedikit tergesa gesa gue menabrak pintu bagian dalam.Setelah diluar kelas, gue melihat sekeliling. Kelas lain sedang sibuk mendengarkan guru gurunya menjelaskan berbagai macam materi yang diharapkan bisa membantu siswanya mencari nafkah dikemudian hari. Lalu gue melihat gerombolan anak anak kelas gue. Untung belum terlalu jauh, pikir gue. Dengan setengah berlari gue menuju Aksha. Sohib gue dariSMP. Tidak jauh dari posisi gue, ada segerombolan cewe adek kelas 11 yang berjalan menuju ruang perpustakaan. Kebetulan kelas gue emang deket sama perpustakaan, setiap yang mau ke perpustakaan biasanya akan lebih dulu ngelewatin kelas gue. Lalu gue melihat tatapan si Aksha agak beda begitu liat gerombolan itu. Begitu para adek kelas itu masuk ke perpustakaan, Aksha menoleh kearah gue, "Kamu tau tanggal berapa sekarang mri?"
"Emm, bentar " gue memutar jam di pergelangan tangan gue, "Tanggal XX Agustus, emang ada apa ?". Dia kembali terdiam, kemudian mendesah perlahan
"Satu tahun yang lalu aku nembak dia mri"
---
Gue kemudian kembali mengingat ingat apa saja hal yang pernah Aksha ceritakan tentang pacarnya (sekarang mantannya). Dia bercerita, beberapa minggu sebelum mereka berdua memutuskan untuk putus, si Cewek menjadi lebih jutek dari biasanya. Dia berkata " Bayangin aja mri, orang yang biasanya aja udah jutek, jadi lebih jutek lagi. Mana aku gak tau alesannya jutek itu apa". Dia juga pernah bercerita, bahkan sebelum mereka memutuskan untuk berpacaran, si Cewek sudah menunjukkan sisi juteknya yang menyebalkan, namun dia mencoba untuk bertahan untuk menyatakan perasaannya. Mungkin kali ini Aksha sudah sadar satu hal. Bahwa ada yang tersakiti dalam hatinya karena terus menerus tak dipedulikan.
---
Kejutekan memang menyebalkan. Seperti yang pernah gue bilang di Point Nomer 5 kejutekan salah satu pihak bisa membuat usaha PDKT (dalam kasus Aksha bahkan dalam hubungan perpacaran) menjadi sangat sulit untuk diperjuangkan. Gue pernah tanya sama temen gue, adakah tips atau cara untuk melunakkan atau sedikitnya mempertahankan conversation yang lama,
"Menurutmu, ada cara ga buat bisa ngebikin dia gak jutek ?"
"Emm" ada jeda yang lumayan lama "Cewek jutek itu bisa karena banyak hal, kalo misalnya lagi mens atau ada masalah, cewek emang cenderung jadi jutek, Kalo juteknya karena emang lagi gak mood, chatnya dilanjutin entaran aja, "
"Oh gitu" gue ngangguk ngangguk, "Kalo yang gak gara gara jutek?"
"Kalo yang ini berat, soalnya ada banyak kemungkinan. Kalo sekali dua kali jutek sih gak masalah, tapi kalo sampe dianya jutek terus, ada kemungkinan kalo dia sama sekali gak mau dichat sama kamu."
Gue tercekat. Tapi memang betul sih kalau dilogika. Ketika kita sudah jenuh menghadapi seseorang, disadari atau tidak, kita akan mengeluarkan semacam tindakan menjauh. Baik secara terangan terangan (seperti ganti nomer diam diam atau memblock nomer orang tsb) atau dengan membalas chat orang tsb dengan jutek. Apalagi kalau dilakukan oleh seorang cewek. Cewek yang notabene spesies paling suka ngasih kode, sering melakukan hal hal lain yang menyulitkan kami, para lelaki, dan kemudian melakukan sesuatu yang paling suka mereka lakukan, menyalahkan cowok.
Kok ini ngelantur ke mana mana sih?
Untuk penutup, gue mengambil salah satu perktaan Mario Teguh, bahwa "Cintailah orang yang juga mencintaimu, yang lain jangan."atau dengan bahasa lain, "Cintailah orang yang memperdulikanmu seperti kamu memperdulikannya dengan cintamu"
Setelah ngerasa siap, gue meninggalkan tas dan tetek bengek lainnya di kelas. Memang kebiasaan ketika ada pelajaran olahraga dan Seni, satu kelas akan ditinggal penghuninya ke berbagai kelas Seni. Ada seni drama yang gue ambil, ada seni tari yang khusus diperuntukan buat anak cewek, seni musik yang punya ruangan dan peralatan yang memadai, sama seni rupa yang para membernya kayak para brahmana jaman dulu.
"Cepetan mri, ditungguin dari tadi" teriak salah satu temen gue dari luar kelas
"Iya, bentar." Kemudian gue bergegas menuju pintu,dengan sedikit tergesa gesa gue menabrak pintu bagian dalam.Setelah diluar kelas, gue melihat sekeliling. Kelas lain sedang sibuk mendengarkan guru gurunya menjelaskan berbagai macam materi yang diharapkan bisa membantu siswanya mencari nafkah dikemudian hari. Lalu gue melihat gerombolan anak anak kelas gue. Untung belum terlalu jauh, pikir gue. Dengan setengah berlari gue menuju Aksha. Sohib gue dariSMP. Tidak jauh dari posisi gue, ada segerombolan cewe adek kelas 11 yang berjalan menuju ruang perpustakaan. Kebetulan kelas gue emang deket sama perpustakaan, setiap yang mau ke perpustakaan biasanya akan lebih dulu ngelewatin kelas gue. Lalu gue melihat tatapan si Aksha agak beda begitu liat gerombolan itu. Begitu para adek kelas itu masuk ke perpustakaan, Aksha menoleh kearah gue, "Kamu tau tanggal berapa sekarang mri?"
"Emm, bentar " gue memutar jam di pergelangan tangan gue, "Tanggal XX Agustus, emang ada apa ?". Dia kembali terdiam, kemudian mendesah perlahan
"Satu tahun yang lalu aku nembak dia mri"
---
Gue kemudian kembali mengingat ingat apa saja hal yang pernah Aksha ceritakan tentang pacarnya (sekarang mantannya). Dia bercerita, beberapa minggu sebelum mereka berdua memutuskan untuk putus, si Cewek menjadi lebih jutek dari biasanya. Dia berkata " Bayangin aja mri, orang yang biasanya aja udah jutek, jadi lebih jutek lagi. Mana aku gak tau alesannya jutek itu apa". Dia juga pernah bercerita, bahkan sebelum mereka memutuskan untuk berpacaran, si Cewek sudah menunjukkan sisi juteknya yang menyebalkan, namun dia mencoba untuk bertahan untuk menyatakan perasaannya. Mungkin kali ini Aksha sudah sadar satu hal. Bahwa ada yang tersakiti dalam hatinya karena terus menerus tak dipedulikan.
---
Kejutekan memang menyebalkan. Seperti yang pernah gue bilang di Point Nomer 5 kejutekan salah satu pihak bisa membuat usaha PDKT (dalam kasus Aksha bahkan dalam hubungan perpacaran) menjadi sangat sulit untuk diperjuangkan. Gue pernah tanya sama temen gue, adakah tips atau cara untuk melunakkan atau sedikitnya mempertahankan conversation yang lama,
"Menurutmu, ada cara ga buat bisa ngebikin dia gak jutek ?"
"Emm" ada jeda yang lumayan lama "Cewek jutek itu bisa karena banyak hal, kalo misalnya lagi mens atau ada masalah, cewek emang cenderung jadi jutek, Kalo juteknya karena emang lagi gak mood, chatnya dilanjutin entaran aja, "
"Oh gitu" gue ngangguk ngangguk, "Kalo yang gak gara gara jutek?"
"Kalo yang ini berat, soalnya ada banyak kemungkinan. Kalo sekali dua kali jutek sih gak masalah, tapi kalo sampe dianya jutek terus, ada kemungkinan kalo dia sama sekali gak mau dichat sama kamu."
Gue tercekat. Tapi memang betul sih kalau dilogika. Ketika kita sudah jenuh menghadapi seseorang, disadari atau tidak, kita akan mengeluarkan semacam tindakan menjauh. Baik secara terangan terangan (seperti ganti nomer diam diam atau memblock nomer orang tsb) atau dengan membalas chat orang tsb dengan jutek. Apalagi kalau dilakukan oleh seorang cewek. Cewek yang notabene spesies paling suka ngasih kode, sering melakukan hal hal lain yang menyulitkan kami, para lelaki, dan kemudian melakukan sesuatu yang paling suka mereka lakukan, menyalahkan cowok.
Kok ini ngelantur ke mana mana sih?
Untuk penutup, gue mengambil salah satu perktaan Mario Teguh, bahwa "Cintailah orang yang juga mencintaimu, yang lain jangan."atau dengan bahasa lain, "Cintailah orang yang memperdulikanmu seperti kamu memperdulikannya dengan cintamu"
Komentar
Posting Komentar