Cinta itu



            Cinta itu apa adanya. Cinta itu tak mengubah. Cinta itu mengalir apa adanya. Itu adalah beberapa sumpah, senjata yang sering orang ucapkan menyangkut cinta, kalimat yang menjadi pegangan orang orang dalam mencinta, dan menjadi definisi banyak orang mengenai apa itu cinta.
***
            Membaca kembali postingan lama membantu gue menemukan banyak hal. Mendapatkan ide buat postingan baru, membantu gue menemukan gaya menulis yang orisinil, ataupun hanya sekedar menertawakan kembali ketololan gue dapat menyingkapi banyak hal. Salah satunya mengenai masalah klasik mengenai remaja. Masalah cinta.
            Gue pernah percaya setengah mati kalo cinta itu menjunjung tinggi kalimat apa adanya. Menjadi seseorang yang disukai tanpa harus mengubah diri, menyukai seseorang tanpa harus menuntutnya mengubah dirinya, dicintai dan mencintai secara apa adanya. Tetapi, enggak. Gue sadar bahwa cinta itu mengubah. Baik kecil maupun besar, disadari ataupun tidak disadari. Hal yang jelas jelas berubah bahkan ketika kita mulai menjalani suatu hubungan adalah status facebook kita. Dari mungkin lajang (telanjang kalo di status gue) menjadi berpacaran. Banyak sekali orang orang yang mengagungkan ke-relationship-an mereka. Membanggakannya di mana-mana. Baik di semua sosial media, aplikasi chatting, sampai melalui pembicaraan-pembicaraan kecil di sebuah kafe. Setelah itu kita mulai  dipaksa mengingat berbagai macam macam tanggal. Seperti 40 hari ketemuan, 13 hari ketemuan sama ortu, 1 bulanan, 1 bulan lebih 2 hari, 300 harian kenal, dan lain lain. Hingga mungkin setiap saat kita harus membawa satu bendel kalender, sehingga kita bisa langsung melihat tanggal dan mencatat tanpa harus mendapatkan resiko tamparan di pipi karena lupa tanggal 2 bulanan 3 minggu 4 hari 5 jam setelah nembak.
            Cinta itu menuntut. Tak melulu tentang menye menye. Tak hanya sekadar sayang sayangan belaka. Cinta menuntut kedewasaan. Menuntut kepercayaan dari kedua belah pihak. Dengan resiko tentu saja kepercayaan yang disalahfungsikan (Bandot misalnya). Cinta menuntut pengertian, dan toleransi jadi salah satu komponennya.
            Cinta itu juga tidak mengalir apa adanya. Itu butuh sebuah usaha. Orang orang yang percaya cinta itu mengalir apa adanya adalah (menurut saya) tipikal orang orang yang sudah terlalu lelah mengejar cintanya. Berharap bahwa cinta akan mendekatinya. Meskipun ketika dia ongkang ongkang dirumah nungguin setoran, cinta akan mendekatinya. Semua orang tau, yang mengalir apa adanya bukanlah cinta, melainkan kotoran manusia.
            Cinta itu tak harus memiliki. Kata orang yang tak pernah memiliki cintanya. Kata orang yang menyerah sebelum perang. Kata orang yang tak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan. Andaikata cinta tak harus memiliki, kenapa kita cemburu kalau si dia menggandeng mesra orang lain, kenapa harus ada ikatan suami istri (selain dalam konteks menghalalkan hubungan seksual tentu saja) kalau memang kita tak harus memilikinya. Bukankah itu pertanda kalo kita tak bisa kalau hanya melihatnya dari kejauhan?
            Cinta itu mengubah. Absolutely. Ada yang harus kita garis bawahi dalam kata mengubah. Mengubah disini adalah kita menjadi sosok yang lebih baik. Bukan jadi orang lain. Kita tak kehilangan identitas asli kita. Kita harus menjadi sosok yang lebih baik. Sosok yang layak dicintai. Sehingga sekalipun cinta itu berakhir, kita masih mendapat predikat “pantas dicintai”. Lagipula, kalau Power Rangers gak berubah, yang mbunuh monster siapa?
           

Komentar