Malam minggu kemaren (01/11), salah satu organisasi yang gue ikutin ngadain kaderisasi di sekolah. Dan wew, sebagai senior-year student, gue harus semangat melakukan sesuatu hal yang sebenernya gue anggap ga terlalu penting; wawancara adek kelas.
Setelah melalui ritual kaderisasi yang cukup melelahkan (Ramah tamah, perkenalan organisasi, bahkan ada tes psikologi!), sekitar pukul 19.15, tradisi wawancara pun dimulai. Gue bersiap dengan beberapa kertas pertanyaan untuk adek kelas beserta catatan jawaban dari mereka. Sebelum kita (para kaka kelas pewawancara) disebar ke berbagai tempat, Eki, salah satu anggota organisasi, menjelaskan beberapa kriteria adek kelas berdasarkan tes psikologi tadi, yaitu K (stands for "KETUA"), P ("Pemikir") H (singkatan dari "Harmonis") dan terakhir G, yang artinya Gaul. Eki, yang memang menguasai beberapa materi tentang psikologi seseorang, bertugas mewawancarai beberapa adek kelas yang memiliki kriteria sebagai ketua bersama dengan Faizal dan Ihsan. Namun mereka akan bertugas berpisah. Dengan kata lain, yang diwawancarai oleh ketiga orang tersebut adalah kriteria calon ketua organisasi kita dimasa depan. Lalu gue, Reza serta Bayu akan mewawancarai adek kelas lain yang kriterianya "biasa aja". Sekedar catatan, cowok dan cewek dipisah. Jadi gak akan mungkin ada adek kelas cewek yang dateng ke arah gue sambil menyerahkan kertas wawancaranya. Kalo yang dateng cewek cewek penunggu sekolahan malah ada kemungkinan.
Waktu menunjukkan pukul 21.02, tanda wawancara sudah harus selesai dan kemudian diteruskan hari senin. Gue membereskan kertas kertas untuk kemudian menuju masjid buat rapat sekaligus penutupan hari pertama. Setelah itu, sedikit demi sedikit motor motor mulai menghilang dari parkiran sekolah. Faizal mengumpulkan kembali kita untuk koordinasi tentang kegiatan barusan serta pengarahan untuk acara hari kedua. Ada anggota yang bertugas mencatat siapa saja yang sudah kita wawancarai. Gue sendiri mewawancarai 3 orang, dengan pengalaman yang agak agak absurd. Peserta pertama anak adek kelas yang emang gue kenal deket. Peserta kedua gue adalah seorang kandidat ketua organisasi lain. Makanya gue sempet kagok buat ngewawancarain dia. Dan peserta ke tiga gue adalah yang paling absurd. Sebenernya gue udah mulai beranjak dari posisi gue di aula sekolah. Posisinya dipinggir dan gak strategis. Ada aliran udara yang cukup kenceng dari belakang gue. Sehingga kalo gue ngentut, itu adalah salah satu kegiatan yang akan membunuh diri gue sendiri karena kentut itu akan meracuni sistem pernapasan gue sendiri. Ditengah usaha gue untuk pindah, gue melihat bayangan orang menuju kearah gue. Gue berdoa dalam hati, namun yang terjadi malah gue jadi makin laper. Ternyata yang gue baca adalah doa sebelum makan. Gue mengarahkan pandangan gue keatas. Ternyata yang dateng lebih menakutkan daripada hantu penunggu sekolah. Adek kelas. Dan dia *******. Kayaknya gue simpen dulu yang ini deh.
Setengah jam kemudian, rapat ditutup. Kali ini giliran masjid yang kehilangan orang orang didalamnya. Gue bergegas menuju parkiran, berniat menebus nikmatnya malam minggu yang belum sempat gue rasakan. Ketika gue sampe di gerbang sekolah, gue melihat ada adek kelas cowok yang belum pulang. Dia tidak terlihat membawa motor. Gue berinisiatif buat nemenin dia sampe ada temen seangkatan lain yang searah sama dia. Ketika Sandy, temen gue yang bentuk tubuhnya agak mirip sama gue (bakpao cina) keluar dari dalam sekolah, gue mencegatnya untuk mbantuin gue nemenin adek kelas yang satu ini. Satu persatu anggota organisasi lainnya meihat gue dengan sandy dan adek kelas ini (Gue singkat dengan si A) menunggu dibawah sebuah pohon di depan sekolah dan mulai menanyakan kepasa si A dimana rumahya. Dia berkata rumahnya di dekat Pasar Saliwangi (Itu jauh loh brooo). Kemudian salah satu anggota, Faizah, mengusulkan agar Sandy berkenan mengantarkan si A karena sudah larut malam. Gue yang emang penasaran sama lokasi Pasar Saliwangi pun mengajukan diri agar ikut menemani Sandy. 15 menit kemudian gue sudah sampai di belokan kanan Jalan Juanda (kalo gak salah), Jalan Nusantara, yang kondang dengan kondisi aspal yang 11:12 sama nilai rapot gue. Disini gue rada takut(pantat gue mulai pegel hellaw) serta kenangan temen gue pernah mengalami kecelakaan disini membuat gue tak berhenti mengucapkan doa doa supaya dilancarkan agar gue gak mengalami sesuatu hal disini. Karena selain jalan yang berlubang dimana mana, disini SEPI DAN GELAP COEG. Apalagi ketika lo melewati suatu persimpangan yang sangat mengerikan dimana kalo lo meleng dikit aja lo bakal berakhir dengan tragis nemplok di spakbor truk truk pembawa pasir.
Setelah melewati jalanan maut itu, sampai lah gue di Pasar Saliwangi. Gue terus lurus melewati papan Jalan Trembesi dan papan jalan lain yang gue gak tau sebelumnya. 5 menit kemudian gue melihat Sandy melambatkan motornya. Sepertinya udah mau sampe nih, pikir gue. Beberapa rumah kemudian lampu sein kanannya menyala. Gue memberhentikan motor gue di sebuah rumah berpagar hijau tua dengan warna rumah putih, kalo gue gak salah liat. Si A pun mengucapkan terima kasih kepada gue dan Sandy. Sebelum gue tancap gas, gue teringat kembali dengan Jalan Nusantara, lalu gue bergegas bertanya kepasa si A jalan lain yang gak perlu lewat jalan kematian itu. Dia berkata, kalo kita mau lurus lalu di perempatan pertama belok kanan, ada jalan raya. Namun jika di perempatan pertama kita terus lurus, kita akan sampai di proliman. Gue yang emang sok pengen ke Proliman padahal gak ngerti apa apa membujuk Sandy dengan perkataan masuk akal kalo lewat jalan yang sama (disini gue menekankan kalimat "Jalan Nusantara sebagai Jalam kematian", iya gue emang seorang penakut sejati) bakal menakutkan, dan Proliman sounds keren. Dia pun menurut. Setelah mengucapkan salam (kita gak minta imbalan loh: re : kita NGAREPIN imbalan loooh), gue dan Sandy meneruskan perjalanan. Setelah sampai di sebuah perempatan, gue masih lurus. Kemudian beberapa menit kemudian, terlihat sebuah lampu lalu lintas. Gue galau. Belok kiri, lurus, apa belok kanan. Sandy kemudian berpendapat agar kita tetep lurus. Gue membantah, gue berkata agar kita belok kanan, karena emang kota berada di sisi kiri kita, jadi ya belok kanan (sebenernya karena kanan itu baik dan kiri itu kotor sih). Setelah beberapa menit kemudian, gue melihat Pasar Saliwangi, dan dalam hati berkata (akhirnya gue tau dimana Pasar Saliwangi) tapi sejurus kemudian gue mengutuk diri sendiri. YA INI SAMA AJA MUTER KHAMVRET. ****#(#?2-1\AJSBWJ SHBABANL*#"(2--£[>_[>.
Gue deg degan. Gue frustasi. Gue frustasi Nagita Slavina nikah sama Raffi, pokoknya gue frustasi. Si A gak memahami maksud gue. Terkutuklah dia, gue kutuk dia kalo tidur merem (ya jelas merem bego). Di persimpangan gue berada di depan Sandy. Gue bertekad gak akan belok kanan (Iya jalan terkutuk itu), kemudian gue mengambil keputusan sableng. Tetep jalan lurus. Maafkan temanmu yang gesrek ini Sandy. Gue gambling. Gue berharap banget gak nyasar. Tapi tanpa gue sadari, fikiran aneh gue bekerja. Gue mulai berkhayal kita nyasar dan akhirnya terpaksa berjalan kaki. Gue berkhayal akhirnya gue dan Sandy gak menemukan jalan rumah dan akhirnya kita mati tanpa ada orang yang menguburkan kita. Gue galau.
Setelah melalui gelapnya malam dan dinginnya udara, gue mulai pesimistik sampe rumah dan optimistik nyasar. Sampe pada entah menit keberapa gue naik motor, sampe pantat nyaris kram, gue ternyata sudah sampai di jalan Tentara Pelajar. Gue girang setengah mampos. Gue teriak teriak dari motor. Gue pengen nari salsa diatas motor, tapi niat itu gue urungkan. Akhirnya gue sampe di tempat yang gue kenal. Gue bahagia, libur telah tiba, jodoh tak kemana mana, cumi cumi panda, pokoknya gue bahagia. Alloh masih sayang sama gue.
#Pesan Moral : Jangan bepergian dengan seseorang dengan tingkat inteligensi setingkat kecoa alay. Pilih teman dengan tingkat inteligensi minimal sepadan. Kalo gak bisa gak usah pergi. Titik.
Setelah melalui ritual kaderisasi yang cukup melelahkan (Ramah tamah, perkenalan organisasi, bahkan ada tes psikologi!), sekitar pukul 19.15, tradisi wawancara pun dimulai. Gue bersiap dengan beberapa kertas pertanyaan untuk adek kelas beserta catatan jawaban dari mereka. Sebelum kita (para kaka kelas pewawancara) disebar ke berbagai tempat, Eki, salah satu anggota organisasi, menjelaskan beberapa kriteria adek kelas berdasarkan tes psikologi tadi, yaitu K (stands for "KETUA"), P ("Pemikir") H (singkatan dari "Harmonis") dan terakhir G, yang artinya Gaul. Eki, yang memang menguasai beberapa materi tentang psikologi seseorang, bertugas mewawancarai beberapa adek kelas yang memiliki kriteria sebagai ketua bersama dengan Faizal dan Ihsan. Namun mereka akan bertugas berpisah. Dengan kata lain, yang diwawancarai oleh ketiga orang tersebut adalah kriteria calon ketua organisasi kita dimasa depan. Lalu gue, Reza serta Bayu akan mewawancarai adek kelas lain yang kriterianya "biasa aja". Sekedar catatan, cowok dan cewek dipisah. Jadi gak akan mungkin ada adek kelas cewek yang dateng ke arah gue sambil menyerahkan kertas wawancaranya. Kalo yang dateng cewek cewek penunggu sekolahan malah ada kemungkinan.
Waktu menunjukkan pukul 21.02, tanda wawancara sudah harus selesai dan kemudian diteruskan hari senin. Gue membereskan kertas kertas untuk kemudian menuju masjid buat rapat sekaligus penutupan hari pertama. Setelah itu, sedikit demi sedikit motor motor mulai menghilang dari parkiran sekolah. Faizal mengumpulkan kembali kita untuk koordinasi tentang kegiatan barusan serta pengarahan untuk acara hari kedua. Ada anggota yang bertugas mencatat siapa saja yang sudah kita wawancarai. Gue sendiri mewawancarai 3 orang, dengan pengalaman yang agak agak absurd. Peserta pertama anak adek kelas yang emang gue kenal deket. Peserta kedua gue adalah seorang kandidat ketua organisasi lain. Makanya gue sempet kagok buat ngewawancarain dia. Dan peserta ke tiga gue adalah yang paling absurd. Sebenernya gue udah mulai beranjak dari posisi gue di aula sekolah. Posisinya dipinggir dan gak strategis. Ada aliran udara yang cukup kenceng dari belakang gue. Sehingga kalo gue ngentut, itu adalah salah satu kegiatan yang akan membunuh diri gue sendiri karena kentut itu akan meracuni sistem pernapasan gue sendiri. Ditengah usaha gue untuk pindah, gue melihat bayangan orang menuju kearah gue. Gue berdoa dalam hati, namun yang terjadi malah gue jadi makin laper. Ternyata yang gue baca adalah doa sebelum makan. Gue mengarahkan pandangan gue keatas. Ternyata yang dateng lebih menakutkan daripada hantu penunggu sekolah. Adek kelas. Dan dia *******. Kayaknya gue simpen dulu yang ini deh.
Setengah jam kemudian, rapat ditutup. Kali ini giliran masjid yang kehilangan orang orang didalamnya. Gue bergegas menuju parkiran, berniat menebus nikmatnya malam minggu yang belum sempat gue rasakan. Ketika gue sampe di gerbang sekolah, gue melihat ada adek kelas cowok yang belum pulang. Dia tidak terlihat membawa motor. Gue berinisiatif buat nemenin dia sampe ada temen seangkatan lain yang searah sama dia. Ketika Sandy, temen gue yang bentuk tubuhnya agak mirip sama gue (bakpao cina) keluar dari dalam sekolah, gue mencegatnya untuk mbantuin gue nemenin adek kelas yang satu ini. Satu persatu anggota organisasi lainnya meihat gue dengan sandy dan adek kelas ini (Gue singkat dengan si A) menunggu dibawah sebuah pohon di depan sekolah dan mulai menanyakan kepasa si A dimana rumahya. Dia berkata rumahnya di dekat Pasar Saliwangi (Itu jauh loh brooo). Kemudian salah satu anggota, Faizah, mengusulkan agar Sandy berkenan mengantarkan si A karena sudah larut malam. Gue yang emang penasaran sama lokasi Pasar Saliwangi pun mengajukan diri agar ikut menemani Sandy. 15 menit kemudian gue sudah sampai di belokan kanan Jalan Juanda (kalo gak salah), Jalan Nusantara, yang kondang dengan kondisi aspal yang 11:12 sama nilai rapot gue. Disini gue rada takut(pantat gue mulai pegel hellaw) serta kenangan temen gue pernah mengalami kecelakaan disini membuat gue tak berhenti mengucapkan doa doa supaya dilancarkan agar gue gak mengalami sesuatu hal disini. Karena selain jalan yang berlubang dimana mana, disini SEPI DAN GELAP COEG. Apalagi ketika lo melewati suatu persimpangan yang sangat mengerikan dimana kalo lo meleng dikit aja lo bakal berakhir dengan tragis nemplok di spakbor truk truk pembawa pasir.
Setelah melewati jalanan maut itu, sampai lah gue di Pasar Saliwangi. Gue terus lurus melewati papan Jalan Trembesi dan papan jalan lain yang gue gak tau sebelumnya. 5 menit kemudian gue melihat Sandy melambatkan motornya. Sepertinya udah mau sampe nih, pikir gue. Beberapa rumah kemudian lampu sein kanannya menyala. Gue memberhentikan motor gue di sebuah rumah berpagar hijau tua dengan warna rumah putih, kalo gue gak salah liat. Si A pun mengucapkan terima kasih kepada gue dan Sandy. Sebelum gue tancap gas, gue teringat kembali dengan Jalan Nusantara, lalu gue bergegas bertanya kepasa si A jalan lain yang gak perlu lewat jalan kematian itu. Dia berkata, kalo kita mau lurus lalu di perempatan pertama belok kanan, ada jalan raya. Namun jika di perempatan pertama kita terus lurus, kita akan sampai di proliman. Gue yang emang sok pengen ke Proliman padahal gak ngerti apa apa membujuk Sandy dengan perkataan masuk akal kalo lewat jalan yang sama (disini gue menekankan kalimat "Jalan Nusantara sebagai Jalam kematian", iya gue emang seorang penakut sejati) bakal menakutkan, dan Proliman sounds keren. Dia pun menurut. Setelah mengucapkan salam (kita gak minta imbalan loh: re : kita NGAREPIN imbalan loooh), gue dan Sandy meneruskan perjalanan. Setelah sampai di sebuah perempatan, gue masih lurus. Kemudian beberapa menit kemudian, terlihat sebuah lampu lalu lintas. Gue galau. Belok kiri, lurus, apa belok kanan. Sandy kemudian berpendapat agar kita tetep lurus. Gue membantah, gue berkata agar kita belok kanan, karena emang kota berada di sisi kiri kita, jadi ya belok kanan (sebenernya karena kanan itu baik dan kiri itu kotor sih). Setelah beberapa menit kemudian, gue melihat Pasar Saliwangi, dan dalam hati berkata (akhirnya gue tau dimana Pasar Saliwangi) tapi sejurus kemudian gue mengutuk diri sendiri. YA INI SAMA AJA MUTER KHAMVRET. ****#(#?2-1\AJSBWJ SHBABANL*#"(2--£[>_[>.
Gue deg degan. Gue frustasi. Gue frustasi Nagita Slavina nikah sama Raffi, pokoknya gue frustasi. Si A gak memahami maksud gue. Terkutuklah dia, gue kutuk dia kalo tidur merem (ya jelas merem bego). Di persimpangan gue berada di depan Sandy. Gue bertekad gak akan belok kanan (Iya jalan terkutuk itu), kemudian gue mengambil keputusan sableng. Tetep jalan lurus. Maafkan temanmu yang gesrek ini Sandy. Gue gambling. Gue berharap banget gak nyasar. Tapi tanpa gue sadari, fikiran aneh gue bekerja. Gue mulai berkhayal kita nyasar dan akhirnya terpaksa berjalan kaki. Gue berkhayal akhirnya gue dan Sandy gak menemukan jalan rumah dan akhirnya kita mati tanpa ada orang yang menguburkan kita. Gue galau.
Setelah melalui gelapnya malam dan dinginnya udara, gue mulai pesimistik sampe rumah dan optimistik nyasar. Sampe pada entah menit keberapa gue naik motor, sampe pantat nyaris kram, gue ternyata sudah sampai di jalan Tentara Pelajar. Gue girang setengah mampos. Gue teriak teriak dari motor. Gue pengen nari salsa diatas motor, tapi niat itu gue urungkan. Akhirnya gue sampe di tempat yang gue kenal. Gue bahagia, libur telah tiba, jodoh tak kemana mana, cumi cumi panda, pokoknya gue bahagia. Alloh masih sayang sama gue.
#Pesan Moral : Jangan bepergian dengan seseorang dengan tingkat inteligensi setingkat kecoa alay. Pilih teman dengan tingkat inteligensi minimal sepadan. Kalo gak bisa gak usah pergi. Titik.
Komentar
Posting Komentar