“Itungannya kan kalo udah 2 bulan
mah udah move on bego” kata Juna di suatu sore hari di dalam kantin yang sudah
mulai sepi. Jam di tangan kanan gue menunjukkan pukul 16.12. Bel sekolah memang
sudah berbunyi satu jam yang lalu, tapi gue masih enggan untuk pulang ke rumah.
Tempat parkir sekolah pun hanya menyisakan satu-dua motor yang masih setia nangkring
di pojok pojok aula sekolah. Gue menghela napas.Menyeruput es teh terakhir dari
dalam gelasnya. Meninggalkan es batu di dalamnya terdiam di dasar gelas. Gue
merogoh saku celana gue. Juna hanya melihat tingkah gue dengan tatapan aneh.
Kemudian gue menaruh hp gue di atas meja kantin. Dengan tatapan sendu, gue
berkata dengan nada muram “Gue udah move on belum sih Jun?”
“Ya harusnya udah. Mana ada orang
yang betah ngegalau selama lebih dari 2 bulan?” jawabnya. Gue memang tau persis
kalo orang gak seharusnya galau berlama lama. Gue juga tau kalau gue harus
belajar merelakan. Namun ada yang salah dalam otak gue. Gue kembali menghela
napas.
“Gue bukannya gak mau move on
Jun. Gue gak bisa. Hati gue gak mau move on kali” jawab gue lemah.
“Lah kalo gitu ya fix elu bego
nyet”. Dia kemudian menggaruk kepalanya. Gue menyodorkan hp gue kearahnya. Juna
mendelik kasar melihat tingkah gue. Dengan kasar hp gue diangkatnya dari meja
kantin.
“Lo mau gue ngapain hp lo nih?”
katanya. “Gue banting aja ya,”
“Enggak gitu juga Jun. Mahal
belinya” kata gue sewot. “Lo teken aja lock key nya”
Dia menurut. Ditekannya tombol
lock key di samping casing hp gue. Dia sedikit kaget dengan wallpaper yang
otomatis muncul ketika lock key tersebut tertekan.
“Gue masih gak bisa ngeganti dia
dari wallpaper gue” kata gue lemah. “Setiap kali gue nyalain hp, gue selalu
dihadapkan sama wajahnya. Ini pasti salah kan ya?”
Juna kembali menggaruk kepalanya.
Kali ini dengan ekspresi yang sedikit berbeda dibanding sebelumnya. Dia
menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Lalu mencondongkan badannya kea rah gue.
“Bukannya elo udah mulai suka sama orang
lain, iya kan?” tanyanya. Gue gak berusaha menjawab pertanyannya secara to the point. Gue malah mengedarkan pandangan kearah parkiran. Menuju
sebuah motor belasan meter dari tempat gue duduk. Gue mengangkat telunjuk gue.
Juna kemudian mengikuti arahan tangan gue. Diliriknya motor itu sekejap. Dia
paham siapa pemiliknya.
“Iya, tapi setiap sore gue selalu
nungguin dia buat pulang sekolah disini. Setiap sore.” Gue masih melihat kearah
motor mio GT yang kini gue dan Juna perhatikan. Gue melirik jam tangan kanan
gue. Harusnya sih sebentar lagi, pikir gue.
Juna tiba tiba berteriak dengan
suara bass-nya, “Itu mri, ada orang yang lagi jalan. Kayaknya dia deh”.
Seketika pandangan gue tertuju pada punggung seorang cewek dengan tas cokelat dengan
aksen anime di kanan dan kirinya. Dia menoleh ke kanan dan kiri, dengan
ekspresi kaget yang bisa gue lihat dari jarak belasan meter darinya. Mungkin
dia kaget kalau dia akan pulang dalam keadaan sesepi ini. Dengan cepat dia mengenakan helm warna putihnya yang dipenuhi dengan stiker yang bertumpuk dimana mana. Kemudian dengan cepat dia
menyalakan motornya. 5 menit kemudian tempat parkir ini benar benar menjadi sepi. Hanya
gue dan Juna yang masih setia dengan pikirannya masing masing.
Lama terdiam dalam lamunan,
gue kaget waktu Juna berdiri sambil meregangkan kedua lututnya. Dia menyerahkan
hp gue ke dalam jangkauan gue. Dia menepuk perlahan pundak gue. Seraya berkata
dengan nada suara yang hanya bisa gue dengar “Lo pasti bisa move on. Gak peduli
berapa lama. Lo pasti bisa move on. Tapi bukan dengan cara berpura pura move on
dengan mulai ndeketin orang lain.” Kemudian dia pergi menuju motor miliknya di
bagian lain tempat parkir. Tak butuh waktu lama untuknya sampai bayangannya menghilang di ujung jalan. Beberapa saat kemudian kesendirian menghinggapi gue di kantin dan tempat parkir ini. Keadaan ini membuat hati gue nyaman. Lalu gue memikirkan kembali perkataaan Juna. Gue berpikir keras dalam hati. Apakah bener gue pura
pura move on?
Komentar
Posting Komentar