Gue selalu suka menonton acara televisi yang bertemakan perjuangan hidup dari masyarakat kecil nun jauh di pelosok sana. Perjuangan seorang bocah mencapai sekolah, usaha seorang kepala rumah tangga untuk menggenggam sebongkah makanan untuk perut anak dan istrinya, atau tekad seseorang untuk menaikkan taraf hidup keluarganya dari bawah garis layak hidup manusia. Menurut gue, setiap episode dalam acara tersebut pantas menerima penghargaan yang bergengsi di indonesia. Dan setiap orang dan pelakonnya diwajibkan untuk mendapat penghidupan yang layak dari orang orang yang "lebih beruntung" atas pembelajaran bermakna tentang hidup. Percayalah, tontonan tersebut jauh lebih bermutu dibandingkan sekelompok harimau yang luntang lantung di hutan atau serigala jejadian yang dalam setiap episodenya diwarnai dengan adegan saling maki satu sama lainnya. Percayalah.
Gue pernah mendengar cemooh seseorang tentang acara yang selalu gue tonton tersebut. Dia berkata bahwa acara tersebut terlalu didramatisir. Terlalu dibuat buat. Acara tersebut dibuat agar banyak orang yang tersentuh hatinya, sehingga sedikit demi sedikit rating pun akan meningkat. Dan dengan otomatis iklan pun akan bersliweran tiada henti di setiap jedanya. Masuk akal memang, kata orang yang tak pernah melewati 12 km untuk ke sekolah dengan telanjang kaki, yang tak pernah menghabiskan waktu tidur siangnya dengan menjadi buruh benang dan tak pernah tidur sebelum jam 10 untuk menyiapkan dagangan untuk esok harinya. Pasti sangat masuk akal.
Pelajaran yang gue ambil setelah berkali kali menonton acara tersebut adalah, berhentilah bersikap seolah dirimu adalah pusat perhatian seluruh semesta. Hidupmu mungkin mengalami masalah. Berat atau ringan. Tapi berhentilah meratap, mulailah untuk berjuang melewatinya. Banyak orang terus menerus mengutuk tentang hidupnya, sedangkan orang lain berharap untuk memiliki hidup sepertinya. Berhentilah membuang sampah. Mulailah menebar hikmah.
Asik ya
Gue pernah mendengar cemooh seseorang tentang acara yang selalu gue tonton tersebut. Dia berkata bahwa acara tersebut terlalu didramatisir. Terlalu dibuat buat. Acara tersebut dibuat agar banyak orang yang tersentuh hatinya, sehingga sedikit demi sedikit rating pun akan meningkat. Dan dengan otomatis iklan pun akan bersliweran tiada henti di setiap jedanya. Masuk akal memang, kata orang yang tak pernah melewati 12 km untuk ke sekolah dengan telanjang kaki, yang tak pernah menghabiskan waktu tidur siangnya dengan menjadi buruh benang dan tak pernah tidur sebelum jam 10 untuk menyiapkan dagangan untuk esok harinya. Pasti sangat masuk akal.
Pelajaran yang gue ambil setelah berkali kali menonton acara tersebut adalah, berhentilah bersikap seolah dirimu adalah pusat perhatian seluruh semesta. Hidupmu mungkin mengalami masalah. Berat atau ringan. Tapi berhentilah meratap, mulailah untuk berjuang melewatinya. Banyak orang terus menerus mengutuk tentang hidupnya, sedangkan orang lain berharap untuk memiliki hidup sepertinya. Berhentilah membuang sampah. Mulailah menebar hikmah.
Asik ya
Komentar
Posting Komentar