Sang Ksatria Templar

Cinta pasti berakhir. Itu adalah kalimat yang tak terbantahkan. Kalimat tersebut memiliki struktur kalimat yang sama seperti kalimat Ketiak tukang becak pasti asem. Seperti apapun tukang becaknya, pastilah asem sari bulu keteknya

Tak banyak orang yang menyadari konsekuensi dari jatuh cinta. Satu hal tentang konsekuensi yang kau dapat ketika jatuh cinta adalah patah hati. Bagaimanapun awalnya, patah hati adalah endingnya. Bagaimanapun indahnya, nangis juga pada akhirnya.

Cinta pasti patah hati. Itulah faktanya. Ada beberapa orang yang berlapang dada atas selesainya suatu hubungan. Yang masih bisa tersenyum dengan senyuman yang ikhlas di kedua sudut bibirnya. Yang sadar bahwa cintanya memiliki "batas kadaluwarsa". Namun tak sedikit pula orang yang menganggap patah hati sebagai kiamat kubro. Akhir dunia. Orang orang begini yang setiap kali galau, bibirnya dilipat ke arah hidung, dengan alis mata yang bertautan di kening yang juga berkerut kerut, dan ditambah dengan hidung yang kembang kempis layaknya bokong tapir perawan. Orang orang seperti ini adalah jenis orang yang akan memeperkan mukanya ke jendela setiap kali hujan, lalu dengan suara yang parau berteriak " Kenapwahhh", dan masih diiringi dengan cuping hidung yang kembang kempis layaknya bokong tapir perawan.

Seharusnya kita menanggapi jatuh cinta seperti ksatria templar. Ksatria jaman dulu yang berani berkorban nyawa untuk kemenangan. Yang berani mengacungkan pedang untuk sesuatu yang dipercayainya. Mereka tahu mereka akan mati. Mereka bukan tipikal serdadu tak waras yang tak takut mati. Mereka takut mati. Namun keberaniannya untuk mengangkat senjata jauh lebih besar dibanding ketakutannya akan kematian. Karena sumber segala keberanian adalah ketakutan, semakin takut mereka, keberanian yang timbul akan semakin besar.

Seperti itulah kita harus jatuh cinta. Walaupun tahu kita akan patah hati, namun usaha kita, perjuangan kita, harapan kita, harus lebih besar dibanding dengan ketakutan akan sakitnya patah hati. Berjuang dengan segala resiko dengan hati yang digenggam erat di kedua tangan kita. Berharap walau tahu sakitnya ketika impian kita dihempaskan ke tanah. Terua berdoa walaupun tak kunjung nampak apa yang kita inginkan. Jatuh cintalah. Karena jatuh cinta dan patah hati risikonya sepadan.

 

Komentar